u3-WhatsApp-Image-2026-03-13-at-03.58.19
JEJAK DIGITAL DI BALIK LAYAR

Cyberbullying merupakan tindakan yang sangat berbahaya karena dapat menimbulkan dampak buruk bagi anak-anak dan remaja. Cyberbullying adalah bentuk perundungan berbasis teknologi yang dilakukan melalui media sosial, platform percakapan, maupun permainan daring dengan tujuan menyakiti, mengucilkan, menjelekkan, mengancam, atau mempermalukan korban. Anak laki-laki maupun perempuan memiliki risiko yang sama untuk menjadi pelaku ataupun korban perundungan daring.

Cyberbullying banyak dialami oleh remaja berusia 13–15 tahun yang juga menjadi kelompok paling rentan menjadi korban perundungan daring. Tindakan ini sering dilakukan secara tersembunyi di balik layar, misalnya melalui telepon genggam. Bentuk interaksi cyberbullying yang sering terjadi antara lain ejekan, sindiran, serta penyebaran kelemahan atau aib orang lain. Perundungan di media sosial ini dilakukan secara sengaja dan berulang kali dengan memanfaatkan media digital.

Berbeda dengan perundungan konvensional atau bullying secara langsung yang umumnya terjadi secara fisik maupun verbal melalui tatap muka pada tempat dan waktu tertentu, cyberbullying dapat terjadi selama 24 jam tanpa batas ruang dan waktu. Kondisi ini membuat korban merasa tidak aman, bahkan saat berada di rumah. Cyberbullying menjadi sangat berbahaya karena dapat merusak kesehatan mental secara serius, menyebabkan hilangnya rasa aman dan kepercayaan diri, meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus, serta berdampak pada kehidupan nyata, seperti penurunan prestasi akademik.

Selain itu, cyberbullying juga dapat meningkatkan risiko self-harm atau tindakan menyakiti diri sendiri, bahkan memicu keinginan untuk mengakhiri hidup. Oleh karena itu, perundungan di dunia maya perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi remaja yang merupakan pengguna aktif media digital.

Bullying dan cyberbullying memiliki tujuan yang sama, yaitu menyakiti korban, tetapi dilakukan dengan cara yang berbeda. Bullying merupakan tindakan mengejek, merundung, atau melecehkan yang dilakukan secara langsung oleh seseorang atau kelompok yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah. Sementara itu, cyberbullying adalah tindakan agresif yang bertujuan menyakiti, menakuti, atau mempermalukan orang lain melalui teknologi digital.

Tindakan tersebut dapat terjadi di berbagai platform, seperti Instagram, Twitch, Twitter, Facebook, TikTok, aplikasi percakapan, serta platform permainan daring. Pelaku cyberbullying sering kali bersifat anonim, yaitu individu yang menyembunyikan identitasnya atau tidak menggunakan nama asli. Kondisi ini membuat pelaku merasa lebih bebas melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Contoh tindakan cyberbullying antara lain menyebarkan kebohongan tentang seseorang, mengunggah foto atau video yang memalukan, melakukan trolling berupa pengiriman pesan yang mengancam atau menjengkelkan, mengucilkan seseorang dari grup, membuat situs atau grup percakapan yang berisi kebencian, serta membuat akun palsu atau mencuri identitas orang lain secara daring.

Bullying secara langsung dan cyberbullying sering kali terjadi secara bersamaan. Namun, cyberbullying meninggalkan jejak digital berupa rekaman atau bukti yang dapat digunakan untuk membantu menghentikan perilaku tersebut.

Cyberbullying memiliki dampak yang sangat besar, terutama terhadap kesehatan mental dan emosional, seperti depresi, kecemasan, ketakutan, trauma, dan rasa tidak aman. Dampak terhadap kesehatan fisik dapat berupa gangguan tidur, perubahan pola makan, serta gangguan pencernaan akibat stres.

Dampak lainnya terhadap kehidupan sehari-hari antara lain penurunan prestasi akademik, isolasi sosial, kecenderungan menarik diri dari lingkungan, perilaku ekstrem seperti self-harm, penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau alkohol, hingga munculnya keinginan untuk bunuh diri. Korban juga dapat merasa malu, takut, khawatir, terhina, dikucilkan, serta kehilangan kepercayaan diri.

Salah satu kasus cyberbullying di dunia nyata terjadi pada seorang murid SMK yang menjadi korban perundungan verbal di media sosial oleh seorang selebgram. Kasus tersebut sempat menarik perhatian publik dan mendapat perhatian dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Akibat kejadian tersebut, korban dilaporkan kehilangan kepercayaan diri dan sempat berniat menghentikan kegiatan praktik kerja lapangan (PKL).

Pihak sekolah menyatakan bahwa cyberbullying dapat menimbulkan dampak psikologis, seperti depresi, mudah marah, gelisah, serta kecenderungan menyakiti diri sendiri. Selain itu, korban juga dapat mengalami penurunan prestasi, sering tidak hadir di sekolah, kesulitan menyesuaikan diri, serta mengalami masalah perilaku.

Oleh karena itu, upaya pencegahan cyberbullying sangat penting dilakukan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menjaga privasi dengan tidak membagikan data pribadi secara sembarangan, berpikir sebelum menulis atau berkomentar di media sosial, membatasi pertemanan daring, memanfaatkan fitur privasi, serta tidak membalas komentar yang bersifat provokatif.

Selain itu, penting untuk membangun komunikasi terbuka dengan orang tua, guru, atau teman terpercaya. Memberikan dukungan kepada korban juga merupakan langkah penting untuk membantu mereka pulih dari dampak psikologis yang dialami.

Jika seseorang menjadi korban cyberbullying, langkah yang dapat dilakukan antara lain menyimpan bukti berupa tangkapan layar (screenshot), melaporkan kejadian kepada pihak platform, orang tua, guru, atau pihak berwenang, memblokir akun pelaku, serta menghentikan interaksi dengan pelaku.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa cyberbullying merupakan ancaman nyata di era digital yang dapat menimbulkan dampak jangka panjang bagi korban. Menghentikan cyberbullying memerlukan kesadaran dan tindakan bersama, yaitu tidak menjadi penonton pasif, berani melaporkan tindakan perundungan, serta memberikan dukungan kepada korban. Mari ciptakan ruang digital yang aman dan saling menghargai, karena kebaikan sekecil apa pun di dunia maya dapat memberikan dampak besar bagi orang lain.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait